Skip to main content

Posts

Bisnis 'Jualan Minoritas' yang Menggiurkan

Siapa yang nggak kenal James Gwee? Tokoh motivator yang satu itu tergolong 'sangat laku' dijual di Indonesia. Setiap kali menggelar seminar, pasti full seat. Mau harganya 500rb, atau 5,5juta pasti langsung ludes dibeli. Banyak yang jadi fans fanatiknya.  Tahu yang namanya Afi? Sosok anak muda yang mulai menanjak akhir-akhir ini; keberaniannya menyerukan toleransi akan kebhinekaan nggak wajar buat anak seusianya. Di samping banyak orang yang menghujat, lebih banyak yang memuja buah pikirannya. Image anak SMA, yang biasanya masih galau karena urusan cinta, dikikis habis oleh Afi. Dia produktif menulis, semuanya tentang rasa berbangsa. Luar biasa. Pernah lihat restoran Korea? Selalu penuh, kan? Big screen bergambar 'oppa' ganteng yang mengundang masuk,  betul-betul bikin penasaran. Orang rela waiting list hanya demi bulgogi dan kimchi, yang mungkin bagi sebagian orang rasanya nggak beda dengan daging bakar dan rujak cuka. (Tergantung keaslian restorannya, kan?) ...

Mengenang Masa Lalu

Belakangan ini, saya menjadi sedikit "cengeng". Dunia yang tadinya begitu indah, sejuk, aman, menyenangkan, dalam sekejap menjadi riuh rendah, berisik dengan kekerasan, bahkan dalam keheningan pun, kekerasan itu masih terasa. Mungkin ini cara saya melarikan diri, nostalgia ke masa lalu. Masa di mana, keberbedaan diterima sebagai bagian berwarna indah dalam satu lukisan dan keindahan dalam lagu yang enak didengar. Bayangkan jika, sebuah lukisan hanya satu warna; bahkan lukisan monokrom, pun minimal 2 warna.. Sebuah lagu semua notnya berada di satu nada... Ketukannya sama.... Membayangkannya saja sudah stress... Sang Pencipta kita sangat kreatif, dari satu jenis makhluk bisa dibuat demikian banyak perbedaan, tidak ada yang sama 100%. Bahkan binatang dan pohon pun jika kita perhatikan semuanya berbeda satu sama lain. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa Sang Pencipta sangat menyukai keberagaman. Jika tidak, untuk apa Ia menciptakan suku bangsa begitu banyak, yang men...

Berbeda Kerupuk, Tapi Tetap Satu Jua

Dulu...dulu...sekali, ayahku senang menyanyikan lagu ini: "Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij" Lagu yang diterjemahkan sebagai "Beri Aku Nasi Goreng" merupakan lagu kenangan Tante Liem, seorang aktris dan kabaretis Belanda yang lahir di Indonesia, namun harus pulang ke Den Haag akibat kebijakan pemerintah Indonesia sekitar tahun 1957. Ah.., tapi bukan itu yang mau kutulis. Kerinduan Tante Liem akan makanan Indonesia nggak sepenting urusan bangsa kita. Apa yang mau kutulis lebih genting daripada itu semua. Apa yang mau kutulis adalah tentang kerupuk...dan bagaimana dia mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan. Sidoarjo punya yang namanya kerupuk udang. Adonan tepung tapioka dan udang rebon yang ditumbuk halus, lalu dikukus, diiris tipis dan dijemur hingga kering. Mirip dengan itu, Palembang punya kerupuk ikan. Ada juga kerupuk yang digoreng tidak dengan minyak panas, tapi pakai ...