Skip to main content

Berbeda Kerupuk, Tapi Tetap Satu Jua

Dulu...dulu...sekali, ayahku senang menyanyikan lagu ini:

"Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij"

Lagu yang diterjemahkan sebagai "Beri Aku Nasi Goreng" merupakan lagu kenangan Tante Liem, seorang aktris dan kabaretis Belanda yang lahir di Indonesia, namun harus pulang ke Den Haag akibat kebijakan pemerintah Indonesia sekitar tahun 1957.

Ah.., tapi bukan itu yang mau kutulis. Kerinduan Tante Liem akan makanan Indonesia nggak sepenting urusan bangsa kita. Apa yang mau kutulis lebih genting daripada itu semua. Apa yang mau kutulis adalah tentang kerupuk...dan bagaimana dia mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan.

Sidoarjo punya yang namanya kerupuk udang. Adonan tepung tapioka dan udang rebon yang ditumbuk halus, lalu dikukus, diiris tipis dan dijemur hingga kering. Mirip dengan itu, Palembang punya kerupuk ikan. Ada juga kerupuk yang digoreng tidak dengan minyak panas, tapi pakai pasir. Namanya kerupuk melarat dari Cirebon. Dari daerah Timur, ada Kamplang, kerupuk ikan khas Bacan Kabupaten Halmahera Selatan. Pulau Kalimantan punya Amplang, kerupuk yang dibuat dari campuran ikan dan tepung sagu.

Nah, mengapa orang nggak pernah ribut urusan kerupuk yang berbeda? Mengapa nggak pernah ada demo warga yang minta pengakuan bahwa kerupuknya yang paling baik? Yang paling enak? 

Karena urusan kerupuk urusan lidah, urusan rasa, urusan selera,  urusan kebiasaan. Jadi apanya yang mau didemo? Apanya yang mau didaulat? Toh nggak ada hakim yang bisa tentukan mana kerupuk yang paling baik. Nggak ada undang-undang perlindungan kerupuk yang sudah, atau mau dibuat. Semua diserahkan sama penilaian masing-masing, nggak perlu diumbar depan khalayak.

Lucunya, bahkan nggak ada orang yang merasa terganggu dengan rasa dan tekstur kerupuk yang berbeda. Ke manapun kita pergi, akan dengan mudah menyesuaikan diri. Mau ke Bukittingi, kita akan terbiasa dengan kerupuk Sanjai-nya yang pedas dan gurih. Kalau ke Malang, kita bakal ambil kerupuk ceker untuk menemani makan nasi. Beda lagi kalau habis pulang dari Tana Toraja. Kita mungkin bakal nagih dengan kerupuk Dangke yang dibuat dari campuran susu sapi dan nanas. 

Belum pernah dengar semua nama kerupuk itu? Berarti wawasan kita  tentang Indonesia perlu ditambah. Supaya jangan sempit dan fanatik hanya pada satu kerupuk. Karena percaya, deh. Apapun kerupuknya, rasanya tetap sama : garing dan gurih. 
Sama seperti Indonesia: apapun suku yang ada, agama yang ada, budaya yang ada, citranya tetap sama : citra Indonesia. 

Nah, kalau kita dengan mudah jatuh cinta pada kerupuk yang berbeda-beda, semoga cinta kita  pada Indonesia juga bakal sama. Karena negara ini jauh lebih kaya daripada kerupuk. Jangan lagi mempolitisir kerupuk dan segala perbedaannya.  Semoga cinta kita pada  Indonesia melebihi cintanya Tante Liem yang setengah mati rindu akan nasi goreng, sambal terasi, dan kerupuk.


Tulisan si Nyai Guntur,
Jelang hari lahir Pancasila 2017

Comments

Popular posts from this blog

PESAN PLURAL-IS-ME DARI BALIK JERUJI

Belakangan ini, saya agak malas membaca media sosial. Terutama karena isi postingan kalangan tertentu yang membuat panas 'mata' dan panas 'hati'. Setelah semua cara perlindungan diri, dari, mengabaikan, unfollow sampai unfriend, akhirnya suasana agak membaik. Yang paling mengganggu adalah postingan yang menghakimi dan menghina kelompok yang ingin memberikan yang terbaik bagi negara. Terutama postingan yang menyatakan bahwa mereka yang sekarang berjuang mempertahankan kesatuan NKRI sebagai pahlawan kesiangan. Jika meminjam ujaran kaum muda, "Terus klo elo kemane aje selain menebar kebencian dan memecah belah? Orang laen kerjain kebaikan, loe bisanya nyinyir aje." Tadi malam, saya menonton acara Rosi yang mengambil tema "Melawan ISIS". Yang dihadirkan adalah para mantan teroris termasuk Ali Imron sebagai napi teroris dengan hukuman seumur hidup. Di sana dijabarkan bahwa rentang usia yang mudah sekali terpengaruh paham radikalisme dan tero...

Menggambar Telor: Berbeda dan Tak Sempurna

Dulu saya pernah baca satu cerita tentang seorang murid yang berambisi ingin menjadi pelukis ternama. Si murid ini berpindah-pindah dari satu guru ke guru lain, mempelajari ilmu menggambar sampai sempurna. Tapi, tentu saja itu belum cukup. Masih ada satu guru lagi yang belum dia datangi. Master dari yang paling master dari dunia melukis. Singkat kata, si murid diterima oleh guru hebat tersebut. Pelajaran pertamanya adalah menggambar telor . Si murid berpikir kalau itu sangat mudah. Dia menggambar berpuluh-puluh telor yang sempurna dengan penuh percaya diri. Lalu, apa pendapat sang guru? Sang guru hanya mengangguk dan meminta si murid untuk datang lagi besok. Keesokan harinya si murid datang lagi dengan harapan akan mendapatkan ilmu menggambar yang baru. Namun sang guru memintanya menggambar telor lagi. Begitu seterusnya selama enam bulan. Si murid hanya disuruh menggambar telor dan tidak yang lain. Yang tadinya sabar, si murid pun mulai jengkel. Dia marah kepada sang ...