Dulu...dulu...sekali, ayahku senang menyanyikan lagu ini:
"Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij"
Ah.., tapi bukan itu yang mau kutulis. Kerinduan Tante Liem akan makanan Indonesia nggak sepenting urusan bangsa kita. Apa yang mau kutulis lebih genting daripada itu semua. Apa yang mau kutulis adalah tentang kerupuk...dan bagaimana dia mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan.
Sidoarjo punya yang namanya kerupuk udang. Adonan tepung tapioka dan udang rebon yang ditumbuk halus, lalu dikukus, diiris tipis dan dijemur hingga kering. Mirip dengan itu, Palembang punya kerupuk ikan. Ada juga kerupuk yang digoreng tidak dengan minyak panas, tapi pakai pasir. Namanya kerupuk melarat dari Cirebon. Dari daerah Timur, ada Kamplang, kerupuk ikan khas Bacan Kabupaten Halmahera Selatan. Pulau Kalimantan punya Amplang, kerupuk yang dibuat dari campuran ikan dan tepung sagu.
Nah, mengapa orang nggak pernah ribut urusan kerupuk yang berbeda? Mengapa nggak pernah ada demo warga yang minta pengakuan bahwa kerupuknya yang paling baik? Yang paling enak?
Karena urusan kerupuk urusan lidah, urusan rasa, urusan selera, urusan kebiasaan. Jadi apanya yang mau didemo? Apanya yang mau didaulat? Toh nggak ada hakim yang bisa tentukan mana kerupuk yang paling baik. Nggak ada undang-undang perlindungan kerupuk yang sudah, atau mau dibuat. Semua diserahkan sama penilaian masing-masing, nggak perlu diumbar depan khalayak.
Lucunya, bahkan nggak ada orang yang merasa terganggu dengan rasa dan tekstur kerupuk yang berbeda. Ke manapun kita pergi, akan dengan mudah menyesuaikan diri. Mau ke Bukittingi, kita akan terbiasa dengan kerupuk Sanjai-nya yang pedas dan gurih. Kalau ke Malang, kita bakal ambil kerupuk ceker untuk menemani makan nasi. Beda lagi kalau habis pulang dari Tana Toraja. Kita mungkin bakal nagih dengan kerupuk Dangke yang dibuat dari campuran susu sapi dan nanas.
Belum pernah dengar semua nama kerupuk itu? Berarti wawasan kita tentang Indonesia perlu ditambah. Supaya jangan sempit dan fanatik hanya pada satu kerupuk. Karena percaya, deh. Apapun kerupuknya, rasanya tetap sama : garing dan gurih.
Sama seperti Indonesia: apapun suku yang ada, agama yang ada, budaya yang ada, citranya tetap sama : citra Indonesia.
Nah, kalau kita dengan mudah jatuh cinta pada kerupuk yang berbeda-beda, semoga cinta kita pada Indonesia juga bakal sama. Karena negara ini jauh lebih kaya daripada kerupuk. Jangan lagi mempolitisir kerupuk dan segala perbedaannya. Semoga cinta kita pada Indonesia melebihi cintanya Tante Liem yang setengah mati rindu akan nasi goreng, sambal terasi, dan kerupuk.
Tulisan si Nyai Guntur,
Jelang hari lahir Pancasila 2017
Comments
Post a Comment