Skip to main content

Posts

Showing posts with the label bangsa

Gelegar Kapal Karam

Ada kisah tentang sebuah kapal besar, yang indah. Yang di dalamnya lengkap dengan anggur dan makanan, yang puas oleh pesta-pesta dan lampu dansa. Kapal itu membawa ratusan orang - kaya dan miskin, pejabat dan penjahat, artis dan para kapitalis, preman dan relawan.  Semua melebur dalam satu tujuan, ke tanah impian. Suatu hari sang kapten dipaksa turun dari anjungan, dijejalkan di antara himpitan muatan lambung kapal. Kapal pun menggelegar, dalam bunyi berisik yang sunyi - pekak tanpa sorak.  Mulailah semua orang ingin kuasa. Bicara, menyentak, menghentak. Saling sikut dan berebut. Picik dan licik. Tanpa ampun menyabet, tanpa gentar merobek.  Gelegar kapal, mulai karam. Semua ideologi berhamburan. Agamais, sosialis, kapitalis, komunis. Berubah makin radikalis, anti humanis, tak luput juga yang apatis. Semua mendaulat prinsipnya'kan jadi penyelamat.   Penumpang pun mulai pesimis. Apa artinya ada dalam satu kapal, jika tujuan mulai berkelok, kalau persahabat...

Menggambar Telor: Berbeda dan Tak Sempurna

Dulu saya pernah baca satu cerita tentang seorang murid yang berambisi ingin menjadi pelukis ternama. Si murid ini berpindah-pindah dari satu guru ke guru lain, mempelajari ilmu menggambar sampai sempurna. Tapi, tentu saja itu belum cukup. Masih ada satu guru lagi yang belum dia datangi. Master dari yang paling master dari dunia melukis. Singkat kata, si murid diterima oleh guru hebat tersebut. Pelajaran pertamanya adalah menggambar telor . Si murid berpikir kalau itu sangat mudah. Dia menggambar berpuluh-puluh telor yang sempurna dengan penuh percaya diri. Lalu, apa pendapat sang guru? Sang guru hanya mengangguk dan meminta si murid untuk datang lagi besok. Keesokan harinya si murid datang lagi dengan harapan akan mendapatkan ilmu menggambar yang baru. Namun sang guru memintanya menggambar telor lagi. Begitu seterusnya selama enam bulan. Si murid hanya disuruh menggambar telor dan tidak yang lain. Yang tadinya sabar, si murid pun mulai jengkel. Dia marah kepada sang ...

Berbeda Kerupuk, Tapi Tetap Satu Jua

Dulu...dulu...sekali, ayahku senang menyanyikan lagu ini: "Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij" Lagu yang diterjemahkan sebagai "Beri Aku Nasi Goreng" merupakan lagu kenangan Tante Liem, seorang aktris dan kabaretis Belanda yang lahir di Indonesia, namun harus pulang ke Den Haag akibat kebijakan pemerintah Indonesia sekitar tahun 1957. Ah.., tapi bukan itu yang mau kutulis. Kerinduan Tante Liem akan makanan Indonesia nggak sepenting urusan bangsa kita. Apa yang mau kutulis lebih genting daripada itu semua. Apa yang mau kutulis adalah tentang kerupuk...dan bagaimana dia mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan. Sidoarjo punya yang namanya kerupuk udang. Adonan tepung tapioka dan udang rebon yang ditumbuk halus, lalu dikukus, diiris tipis dan dijemur hingga kering. Mirip dengan itu, Palembang punya kerupuk ikan. Ada juga kerupuk yang digoreng tidak dengan minyak panas, tapi pakai ...