Skip to main content

Bisnis 'Jualan Minoritas' yang Menggiurkan

Siapa yang nggak kenal James Gwee? Tokoh motivator yang satu itu tergolong 'sangat laku' dijual di Indonesia. Setiap kali menggelar seminar, pasti full seat. Mau harganya 500rb, atau 5,5juta pasti langsung ludes dibeli. Banyak yang jadi fans fanatiknya. 

Tahu yang namanya Afi? Sosok anak muda yang mulai menanjak akhir-akhir ini; keberaniannya menyerukan toleransi akan kebhinekaan nggak wajar buat anak seusianya. Di samping banyak orang yang menghujat, lebih banyak yang memuja buah pikirannya. Image anak SMA, yang biasanya masih galau karena urusan cinta, dikikis habis oleh Afi. Dia produktif menulis, semuanya tentang rasa berbangsa. Luar biasa.

Pernah lihat restoran Korea? Selalu penuh, kan? Big screen bergambar 'oppa' ganteng yang mengundang masuk,  betul-betul bikin penasaran. Orang rela waiting list hanya demi bulgogi dan kimchi, yang mungkin bagi sebagian orang rasanya nggak beda dengan daging bakar dan rujak cuka. (Tergantung keaslian restorannya, kan?)

Apa hubungannya James Gwee, Afi, dan restoran Korea di Indonesia? Ketiganya adalah soal bisnis jual 'minoritas'. Jenis bisnis yang satu ini memang selalu laku. Punya peluang maju lebih pesat. Mengapa? Karena orang butuh sesuatu yang berbeda, nggak mau lagi beli yang sama. Dari makanan sampai fashion, dari artis sampai motivator, selalu saja ada pasar terbuka buat para 'minoritas'.

Enak, kan, jadi minoritas? Nggak ada yang salah. Asaalll....memang laku dijual. Restoran Korea yang tadi kimchi rasa rujak cuka itu bakal dengan cepat ditinggalkan konsumennya. Ketidakpuasan bikin orang nggak mau datang lagi. Sama halnya kalau kita ketemu orang 'minoritas' yang menyebalkan, pasti nggak mau ketemu lagi.

Para 'minoritas' ini nggak bisa digeneralisasikan pada sekelompok ras saja, seperti banyak dibombardir para golongan bumi datar. Karena pada dasarnya setiap orang adalah minoritas, tergantung konteksnya. Anak-anak autis menjadi minoritas di tengah sistem pendidikan konvensional. Para tuna daksa menjadi minoritas di tengah kalangan pejalan kaki normal. Pejabat antikorupsi adalah minoritas di tengah rekan satu politiknya. Ada banyak minoritas yang nggak kita sadari, nggak terbatas pada ras atau agama. Dan bukan itu yang penting!

Jauh lebih penting adalah menjadi minoritas yang berani memilih. Pilihan untuk lebih baik, lebih berkarya, lebih punya nama. Seperti James Gwee, Afi, dan restoran Korea di Indonesia. Pilihan untuk jadi minoritas yang berdampak, yang punya manfaat. Entah kita adalah guru di pedalaman, entah kita pegawai negeri dengan gaji kecil yang nggak pernah korupsi, entah kita pedagang daging yang nggak pernah curang, entah kita anak muda yang mau peduli dan nggak sekedar kejar materi, entah kita artis anti narkoba, entah kita dokter yang jasanya bisa ditukar hasil bumi, entah kita montir yang nggak pernah sengaja sebar paku di jalanan, entah kita sekedar manusia....tapi bernurani.

Pilihan jadi minoritas yang nggak cuma ngomong di media sosial, tapi sungguh-sungguh menunjukkan bakti dan cintanya akan Indonesia. Pilihan buat setia, pada satu bangsa - satu tanah air - satu bahasa persatuan yang SAMA. Pilihan untuk mengusung nasionalisme di atas fanatisme pribadi. Itulah 'bisnis minoritas' yang bisa dijual.

Jadi..., mulai sekarang berlomba-lombalah jadi 'si minoritas'. Bukan karena terlahir di tengah bangsa yang nggak sama, tapi karena punya prestasi dan mau peduli.  Peduli pada siapa? Pada masyarakat yang hampir terpecah. Peduli pada apa? Pada rasa kebangsaan yang hampir patah.

Comments

Popular posts from this blog

PESAN PLURAL-IS-ME DARI BALIK JERUJI

Belakangan ini, saya agak malas membaca media sosial. Terutama karena isi postingan kalangan tertentu yang membuat panas 'mata' dan panas 'hati'. Setelah semua cara perlindungan diri, dari, mengabaikan, unfollow sampai unfriend, akhirnya suasana agak membaik. Yang paling mengganggu adalah postingan yang menghakimi dan menghina kelompok yang ingin memberikan yang terbaik bagi negara. Terutama postingan yang menyatakan bahwa mereka yang sekarang berjuang mempertahankan kesatuan NKRI sebagai pahlawan kesiangan. Jika meminjam ujaran kaum muda, "Terus klo elo kemane aje selain menebar kebencian dan memecah belah? Orang laen kerjain kebaikan, loe bisanya nyinyir aje." Tadi malam, saya menonton acara Rosi yang mengambil tema "Melawan ISIS". Yang dihadirkan adalah para mantan teroris termasuk Ali Imron sebagai napi teroris dengan hukuman seumur hidup. Di sana dijabarkan bahwa rentang usia yang mudah sekali terpengaruh paham radikalisme dan tero...

Mengenang Masa Lalu

Belakangan ini, saya menjadi sedikit "cengeng". Dunia yang tadinya begitu indah, sejuk, aman, menyenangkan, dalam sekejap menjadi riuh rendah, berisik dengan kekerasan, bahkan dalam keheningan pun, kekerasan itu masih terasa. Mungkin ini cara saya melarikan diri, nostalgia ke masa lalu. Masa di mana, keberbedaan diterima sebagai bagian berwarna indah dalam satu lukisan dan keindahan dalam lagu yang enak didengar. Bayangkan jika, sebuah lukisan hanya satu warna; bahkan lukisan monokrom, pun minimal 2 warna.. Sebuah lagu semua notnya berada di satu nada... Ketukannya sama.... Membayangkannya saja sudah stress... Sang Pencipta kita sangat kreatif, dari satu jenis makhluk bisa dibuat demikian banyak perbedaan, tidak ada yang sama 100%. Bahkan binatang dan pohon pun jika kita perhatikan semuanya berbeda satu sama lain. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa Sang Pencipta sangat menyukai keberagaman. Jika tidak, untuk apa Ia menciptakan suku bangsa begitu banyak, yang men...

Matoa di Tanah Jawa

Udara tak pernah selemah itu. Setiap tarikan dan hembusan seakan tanpa gesek, memberikan dimensi luang pada setiap molekul untuk menjauh. Bukan karena udaranya aku pengap, tapi akibat berita di TV aku seakan terjebak. Berita si pemimpin tak punya hati yang bikin emosi. Ditambah bau dahak yang menguar di udara. Bikin muak! "Ko pu maitua cantik sekali (isterimu cantik sekali)," suara lirih itu baru kudengar seharian ini.  Aku mangkir, menoleh pun tidak. Perempuan yang kini tergolek di atas dipan tidak kukenal. Bahkan kami tak pernah jumpa di acara pernikahan. Hanya Theo yang datang waktu itu, disaksikan seorang pendeta, dicatatkan di dinas kependudukan. Toh aturan di Indonesia tak pernah melarang pria berusia 29 tahun untuk menikah dengan wanita pilihannya.  "Tidur sudah, Mace. Jang terlalu banyak tahan mata!" Itu suamiku. Lelaki asli papua yang membuatku jatuh cinta dengan gelap kulitnya yang kontras dengan putih hatinya. Dia tak pernah marah, juga bukan tipe laki-la...