Skip to main content

Enak Dimakan, Tidak Baik Ditiru

Salah satu makanan yang paling enak bagi saya adalah masakan berbahan dasar kepiting. Entah digoreng saus mentega, dimasak saus tiram, dijadikan salad. Sepertinya tidak ada masakan yang seenak kepiting. Mohon maaf yang bagi teman - teman yang vegetarian dan pencinta hewan. Memang ini tidak berkepitingan, tapi sebagai makhluk omnivora apa daya, bagi saya begitu adanya.
Salah satu hal yang sering saya renungkan adalah kepiting - kepiting ini jika dijual di pasar, pasti dalam keadaan terikat. Jika saya bertanya pada penjual, kenapa harus diikat? Nanti kabur, atau melukai pembeli. Oh iya juga sih, siapa yang tidak tahu kalau kepiting itu sangat gesit, selain dengan cara jalannya yang unik, nyamping... minggir...
Namun saya pernah membaca, ternyata ada sifat kepiting yang sebenarnya menguntungkan penjualnya, sehingga tidak usah diikat seperti yang biasa kita lihat di pasar. (Kasian penjual yang tadi ya, belum tahu soal ini). Sifat kepiting itu adalah "Ga suka liat kepiting lain sukses, dan suka menggagalkan kepiting lain." Tinggal taruh saja semua kepiting yang ada di sebuah ember dijamin tidak ada yang bisa keluar ember. Kenapa? Karena begitu melihat, ada kepiting yang sudah hampir sampai ke mulut ember, pasti ditarik oleh teman - temannya. "Horeeeeee.... jatoh die kita tarik."
Maksudnya biar sama - sama susah kali ya, "Ga pren lo ama kite" ,begitu mungkin kalau pakai bahasa anak - anak gaul sekarang. Kalau untuk kepiting yang mau kita makan, itu menguntungkan untuk kita, bukan?
Tapi jika kita manusia seperti itu? Ehmmm, bagaimana ya? Pada kenyataannya, ternyata ada manusia kepiting di tengah - tengah masyarakat kita. Silakan tonton link berikut ini.




Apa yang kita pikirkan saat melihat link di atas?

Luar biasa bukan?

Seorang putra bangsa sengaja diundang untuk memeriahkan sebuah acara bertaraf internasional.
Namun saat orang di luar sana memberikan komen positif memberikan 4 YES, lalu apa tanggapan orang Indonesia sebagai negara asal Demian? Lihat orang lain sukses, bawaannya sirik, nyinyir, menjelekkan, huuuuuu nyorakin ...

Ga banget ya....

Seharusnya, jika lihat orang lain sukses harusnya, kita jadi tambah semangat, bekerja keras n cerdas. Bersaing secara sehat.
Seperti kepiting yang tidak suka lihat kepiting lain senang, demikian juga oknum yang tidak suka melihat sesamanya berhasil. Kita doakan saja semoga kepiting - kepiting ini segera bertobat...
Belajarlah rendah hati dan mendukung sesama yang berhasil seperti yang dilakukan seorang Master, bukan orang biasa, yang lebih layak memberi komentar jelek. Tapi apa yang dia katakan?



Yuk ah jadi orang yang hidupnya seringan bulu angsa. Alias santai aja, dan jalani hidup dengan senyum.
Saat terjadi sesuatu, pandanglah sisi positifnya, bereaksi dengan hal positif dan semua hal positif akan terjadi juga padamu.
Karena hidup adalah aksi reaksi atau orang bilang hukum tabur tuai itu berlaku.
Masih mau jadi kepiting?

Comments

Popular posts from this blog

Matoa di Tanah Jawa

Udara tak pernah selemah itu. Setiap tarikan dan hembusan seakan tanpa gesek, memberikan dimensi luang pada setiap molekul untuk menjauh. Bukan karena udaranya aku pengap, tapi akibat berita di TV aku seakan terjebak. Berita si pemimpin tak punya hati yang bikin emosi. Ditambah bau dahak yang menguar di udara. Bikin muak! "Ko pu maitua cantik sekali (isterimu cantik sekali)," suara lirih itu baru kudengar seharian ini.  Aku mangkir, menoleh pun tidak. Perempuan yang kini tergolek di atas dipan tidak kukenal. Bahkan kami tak pernah jumpa di acara pernikahan. Hanya Theo yang datang waktu itu, disaksikan seorang pendeta, dicatatkan di dinas kependudukan. Toh aturan di Indonesia tak pernah melarang pria berusia 29 tahun untuk menikah dengan wanita pilihannya.  "Tidur sudah, Mace. Jang terlalu banyak tahan mata!" Itu suamiku. Lelaki asli papua yang membuatku jatuh cinta dengan gelap kulitnya yang kontras dengan putih hatinya. Dia tak pernah marah, juga bukan tipe laki-la...

Gelegar Kapal Karam

Ada kisah tentang sebuah kapal besar, yang indah. Yang di dalamnya lengkap dengan anggur dan makanan, yang puas oleh pesta-pesta dan lampu dansa. Kapal itu membawa ratusan orang - kaya dan miskin, pejabat dan penjahat, artis dan para kapitalis, preman dan relawan.  Semua melebur dalam satu tujuan, ke tanah impian. Suatu hari sang kapten dipaksa turun dari anjungan, dijejalkan di antara himpitan muatan lambung kapal. Kapal pun menggelegar, dalam bunyi berisik yang sunyi - pekak tanpa sorak.  Mulailah semua orang ingin kuasa. Bicara, menyentak, menghentak. Saling sikut dan berebut. Picik dan licik. Tanpa ampun menyabet, tanpa gentar merobek.  Gelegar kapal, mulai karam. Semua ideologi berhamburan. Agamais, sosialis, kapitalis, komunis. Berubah makin radikalis, anti humanis, tak luput juga yang apatis. Semua mendaulat prinsipnya'kan jadi penyelamat.   Penumpang pun mulai pesimis. Apa artinya ada dalam satu kapal, jika tujuan mulai berkelok, kalau persahabat...

PESAN PLURAL-IS-ME DARI BALIK JERUJI

Belakangan ini, saya agak malas membaca media sosial. Terutama karena isi postingan kalangan tertentu yang membuat panas 'mata' dan panas 'hati'. Setelah semua cara perlindungan diri, dari, mengabaikan, unfollow sampai unfriend, akhirnya suasana agak membaik. Yang paling mengganggu adalah postingan yang menghakimi dan menghina kelompok yang ingin memberikan yang terbaik bagi negara. Terutama postingan yang menyatakan bahwa mereka yang sekarang berjuang mempertahankan kesatuan NKRI sebagai pahlawan kesiangan. Jika meminjam ujaran kaum muda, "Terus klo elo kemane aje selain menebar kebencian dan memecah belah? Orang laen kerjain kebaikan, loe bisanya nyinyir aje." Tadi malam, saya menonton acara Rosi yang mengambil tema "Melawan ISIS". Yang dihadirkan adalah para mantan teroris termasuk Ali Imron sebagai napi teroris dengan hukuman seumur hidup. Di sana dijabarkan bahwa rentang usia yang mudah sekali terpengaruh paham radikalisme dan tero...