Skip to main content

Gelegar Kapal Karam

Ada kisah tentang sebuah kapal besar, yang indah. Yang di dalamnya lengkap dengan anggur dan makanan, yang puas oleh pesta-pesta dan lampu dansa. Kapal itu membawa ratusan orang - kaya dan miskin, pejabat dan penjahat, artis dan para kapitalis, preman dan relawan.  Semua melebur dalam satu tujuan, ke tanah impian.

Suatu hari sang kapten dipaksa turun dari anjungan, dijejalkan di antara himpitan muatan lambung kapal. Kapal pun menggelegar, dalam bunyi berisik yang sunyi - pekak tanpa sorak. 

Mulailah semua orang ingin kuasa. Bicara, menyentak, menghentak. Saling sikut dan berebut. Picik dan licik. Tanpa ampun menyabet, tanpa gentar merobek. 

Gelegar kapal, mulai karam. Semua ideologi berhamburan. Agamais, sosialis, kapitalis, komunis. Berubah makin radikalis, anti humanis, tak luput juga yang apatis. Semua mendaulat prinsipnya'kan jadi penyelamat.  

Penumpang pun mulai pesimis. Apa artinya ada dalam satu kapal, jika tujuan mulai berkelok, kalau persahabatan jadi tak elok.

Gelegar kapal, mulai karam. Hanya ada dua cara cari pemimpin: lewat darah, atau musyawarah. Sebagian yang waras berkata, "Kami pilih tak tabrak cadas. Musyawarah jelas lebih cerdas."

Kapten kapal baru silih berganti. Yang satu lebih lama berkuasa dibanding yang lain. Yang lain lebih gagah dibandingkan yang satu. Ada juga yang cerdas tapi tanpa nyali. Berani tapi tak punya visi. Lantang tapi jarang membuka rantang. Royal tapi harus dengan mahar.

Tinggallah aku di tengah hiruk-pikuk itu. Tatkala semua kepentingan saling gesek, tak pakai target. Siapa yang hari ini berkawan, bisa juga besok berlawan. 

Bisakah dihentikan?
Bisakah semua diam barang sejenak? 
Dan lihat kembali awal perjuangan? Ingat kembali mengapa kita berada dalam kapal yang sama? Kapal yang saat ini terus menggelegar, dan hampir karam. Butuh banyak tenaga buat mengangkatnya kembali. Tak butuh ditambahkan permusuhan, melainkan harus direkat persatuan. Tak butuh lebih banyak kritikan, melainkan harus ditopang pengabdian.

Gelegar kapal karam, menunggu setiap peran.

Comments

Popular posts from this blog

PESAN PLURAL-IS-ME DARI BALIK JERUJI

Belakangan ini, saya agak malas membaca media sosial. Terutama karena isi postingan kalangan tertentu yang membuat panas 'mata' dan panas 'hati'. Setelah semua cara perlindungan diri, dari, mengabaikan, unfollow sampai unfriend, akhirnya suasana agak membaik. Yang paling mengganggu adalah postingan yang menghakimi dan menghina kelompok yang ingin memberikan yang terbaik bagi negara. Terutama postingan yang menyatakan bahwa mereka yang sekarang berjuang mempertahankan kesatuan NKRI sebagai pahlawan kesiangan. Jika meminjam ujaran kaum muda, "Terus klo elo kemane aje selain menebar kebencian dan memecah belah? Orang laen kerjain kebaikan, loe bisanya nyinyir aje." Tadi malam, saya menonton acara Rosi yang mengambil tema "Melawan ISIS". Yang dihadirkan adalah para mantan teroris termasuk Ali Imron sebagai napi teroris dengan hukuman seumur hidup. Di sana dijabarkan bahwa rentang usia yang mudah sekali terpengaruh paham radikalisme dan tero...

Mengenang Masa Lalu

Belakangan ini, saya menjadi sedikit "cengeng". Dunia yang tadinya begitu indah, sejuk, aman, menyenangkan, dalam sekejap menjadi riuh rendah, berisik dengan kekerasan, bahkan dalam keheningan pun, kekerasan itu masih terasa. Mungkin ini cara saya melarikan diri, nostalgia ke masa lalu. Masa di mana, keberbedaan diterima sebagai bagian berwarna indah dalam satu lukisan dan keindahan dalam lagu yang enak didengar. Bayangkan jika, sebuah lukisan hanya satu warna; bahkan lukisan monokrom, pun minimal 2 warna.. Sebuah lagu semua notnya berada di satu nada... Ketukannya sama.... Membayangkannya saja sudah stress... Sang Pencipta kita sangat kreatif, dari satu jenis makhluk bisa dibuat demikian banyak perbedaan, tidak ada yang sama 100%. Bahkan binatang dan pohon pun jika kita perhatikan semuanya berbeda satu sama lain. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa Sang Pencipta sangat menyukai keberagaman. Jika tidak, untuk apa Ia menciptakan suku bangsa begitu banyak, yang men...

Matoa di Tanah Jawa

Udara tak pernah selemah itu. Setiap tarikan dan hembusan seakan tanpa gesek, memberikan dimensi luang pada setiap molekul untuk menjauh. Bukan karena udaranya aku pengap, tapi akibat berita di TV aku seakan terjebak. Berita si pemimpin tak punya hati yang bikin emosi. Ditambah bau dahak yang menguar di udara. Bikin muak! "Ko pu maitua cantik sekali (isterimu cantik sekali)," suara lirih itu baru kudengar seharian ini.  Aku mangkir, menoleh pun tidak. Perempuan yang kini tergolek di atas dipan tidak kukenal. Bahkan kami tak pernah jumpa di acara pernikahan. Hanya Theo yang datang waktu itu, disaksikan seorang pendeta, dicatatkan di dinas kependudukan. Toh aturan di Indonesia tak pernah melarang pria berusia 29 tahun untuk menikah dengan wanita pilihannya.  "Tidur sudah, Mace. Jang terlalu banyak tahan mata!" Itu suamiku. Lelaki asli papua yang membuatku jatuh cinta dengan gelap kulitnya yang kontras dengan putih hatinya. Dia tak pernah marah, juga bukan tipe laki-la...