Skip to main content

Mengenang Masa Lalu

Belakangan ini, saya menjadi sedikit "cengeng".
Dunia yang tadinya begitu indah, sejuk, aman, menyenangkan, dalam sekejap menjadi riuh rendah, berisik dengan kekerasan, bahkan dalam keheningan pun, kekerasan itu masih terasa.

Mungkin ini cara saya melarikan diri, nostalgia ke masa lalu. Masa di mana, keberbedaan diterima sebagai bagian berwarna indah dalam satu lukisan dan keindahan dalam lagu yang enak didengar.

Bayangkan jika, sebuah lukisan hanya satu warna; bahkan lukisan monokrom, pun minimal 2 warna..
Sebuah lagu semua notnya berada di satu nada... Ketukannya sama....
Membayangkannya saja sudah stress...

Sang Pencipta kita sangat kreatif, dari satu jenis makhluk bisa dibuat demikian banyak perbedaan, tidak ada yang sama 100%. Bahkan binatang dan pohon pun jika kita perhatikan semuanya berbeda satu sama lain.

Bagi saya, ini menunjukkan bahwa Sang Pencipta sangat menyukai keberagaman. Jika tidak, untuk apa Ia menciptakan suku bangsa begitu banyak, yang menghasilkan kebudayaan yang begitu beragam, jenis makanan yang berbeda di setiap negara sesuai dengan tempat di mana mereka tinggal.
Saat alam sendiri berbicara tentang indahnya keberagaman, akankah kita manusia sebagai makhluk ciptaan yang tertinggi, yang diberi mandat untuk mengelola alam ciptaanNya, malah menginginkan untuk menghilangkan keberagaman?
Indonesia sungguh merupakan cerminan isi hati Sang Khalik. Negeri yang luar biasa kaya alamnya, sukunya, kebudayaannya, keberagamannya. Bahkan, dasar negaranya sendiripun berbicara tentang hal ini.

Terngiang sebuah lagu lama, sodoran seorang teman, yang diciptakan oleh penyanyi lawas, Franky S, "Pancasila Rumah Kita". Simaklah syairnya :

* Pancasila rumah kita
  rumah untuk kita semua
  nilai dasar Indonesia
  rumah kita selamanya

** untuk semua puji namaNya
untuk semua cinta sesama
untuk semua warna menyatu
untuk semua bersambung rasa
untuk semua saling membagi
pada semua insan, sama dapat sama rasa
oh Indonesiaku (oh Indonesia)

Ulang *, **
sumber :http://liriklagulama.com/franky-sahilatua-pancasila-rumah-kita.htm

https://youtu.be/8cC8X87N5mI

Bersyukurlah untuk semua keberagaman ini.
Jalani kehidupan seringan bulu angsa...

Comments

Popular posts from this blog

PESAN PLURAL-IS-ME DARI BALIK JERUJI

Belakangan ini, saya agak malas membaca media sosial. Terutama karena isi postingan kalangan tertentu yang membuat panas 'mata' dan panas 'hati'. Setelah semua cara perlindungan diri, dari, mengabaikan, unfollow sampai unfriend, akhirnya suasana agak membaik. Yang paling mengganggu adalah postingan yang menghakimi dan menghina kelompok yang ingin memberikan yang terbaik bagi negara. Terutama postingan yang menyatakan bahwa mereka yang sekarang berjuang mempertahankan kesatuan NKRI sebagai pahlawan kesiangan. Jika meminjam ujaran kaum muda, "Terus klo elo kemane aje selain menebar kebencian dan memecah belah? Orang laen kerjain kebaikan, loe bisanya nyinyir aje." Tadi malam, saya menonton acara Rosi yang mengambil tema "Melawan ISIS". Yang dihadirkan adalah para mantan teroris termasuk Ali Imron sebagai napi teroris dengan hukuman seumur hidup. Di sana dijabarkan bahwa rentang usia yang mudah sekali terpengaruh paham radikalisme dan tero...

Menggambar Telor: Berbeda dan Tak Sempurna

Dulu saya pernah baca satu cerita tentang seorang murid yang berambisi ingin menjadi pelukis ternama. Si murid ini berpindah-pindah dari satu guru ke guru lain, mempelajari ilmu menggambar sampai sempurna. Tapi, tentu saja itu belum cukup. Masih ada satu guru lagi yang belum dia datangi. Master dari yang paling master dari dunia melukis. Singkat kata, si murid diterima oleh guru hebat tersebut. Pelajaran pertamanya adalah menggambar telor . Si murid berpikir kalau itu sangat mudah. Dia menggambar berpuluh-puluh telor yang sempurna dengan penuh percaya diri. Lalu, apa pendapat sang guru? Sang guru hanya mengangguk dan meminta si murid untuk datang lagi besok. Keesokan harinya si murid datang lagi dengan harapan akan mendapatkan ilmu menggambar yang baru. Namun sang guru memintanya menggambar telor lagi. Begitu seterusnya selama enam bulan. Si murid hanya disuruh menggambar telor dan tidak yang lain. Yang tadinya sabar, si murid pun mulai jengkel. Dia marah kepada sang ...